TREADMILL
I. APA ITU TREADMILL?
Treadmill adalah
alat olahraga yang umum digunakan di pusat kebugaran seperti gym, namun semakin
banyak orang yang memilih untuk memiliki alat ini di rumah. Fungsinya
memungkinkan pengguna untuk berjalan atau berlari di tempat tanpa perlu
berpindah lokasi. Treadmill dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, termasuk
berjalan santai dan jogging.
Alat ini tersedia
dalam berbagai jenis, mulai dari model yang hanya memiliki satu fungsi hingga
yang multifungsi. Treadmill juga menawarkan berbagai metode penggunaan,
termasuk manual, magnetik, dan elektrik. Dengan kemampuannya untuk disesuaikan
dengan kebutuhan pengguna, treadmill menjadi pilihan yang fleksibel bagi mereka
yang ingin tetap aktif, terlepas dari kondisi cuaca atau waktu.
II.
PENGGUNAAN
TREADMILL SEBAGAI ALAT TERAPI
Treadmill
menawarkan berbagai keuntungan sebagai alat fitness, antara lain:
·
Selain sangat efektif
untuk melatih sistem kardiovaskular, treadmill juga membantu membakar lemak dan
membentuk tubuh menjadi lebih ramping. Berlatih di treadmill setara dengan
berolahraga di luar ruangan; jika dilakukan secara teratur dan dengan porsi
yang tepat, latihan ini dapat meningkatkan kebugaran dan kesehatan tubuh serta
membentuk fisik yang lebih atletis. Dengan
treadmill yang berkualitas, kita dapat menyesuaikan latihan sesuai kebutuhan,
seperti berjalan santai, berjalan cepat, jogging, atau berlari dengan
kemiringan. Pengguna dapat mengatur tingkat kesulitan sesuai dengan keinginan
dan kemampuan masing-masing.
·
Treadmill sangat ideal
bagi mereka yang memiliki ruang terbatas dan tidak memiliki cukup waktu untuk
pergi ke gym. Alat
ini dapat digunakan oleh semua orang, termasuk mereka yang memiliki berbagai
kondisi fisik, seperti individu yang pernah mengalami cedera punggung, lutut,
atau pergelangan kaki yang lemah. Treadmill mengurangi tekanan pada sendi,
berbeda dengan saat berolahraga di luar.
·
Treadmill dilengkapi
dengan fitur pemantauan detak jantung, penghitungan kalori yang terbakar, serta
pencatatan kecepatan dan jarak tempuh. Alat ini sangat cocok untuk orang yang
ingin menurunkan berat badan berlebih dan juga dapat membantu meningkatkan
kepadatan tulang.
III.
PENGGUNAAN
ALAT TREADMILL
Treadmill dapat
digunakan oleh semua orang, termasuk mereka yang memiliki berbagai kondisi
fisik, seperti individu yang pernah mengalami cedera punggung, cedera lutut,
atau memiliki pergelangan kaki dan lutut yang lemah. Hal ini disebabkan oleh
kemampuan treadmill untuk mengurangi tekanan pada sendi, berbeda dengan berolahraga
di luar ruangan.
Treadmill biasanya
dilengkapi dengan fitur untuk memantau detak jantung, menghitung kalori yang
terbakar, serta mencatat kecepatan berjalan atau berlari dan jarak yang telah
ditempuh.
Alat treadmill
sangat ideal bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan berlebih dan juga
dapat membantu meningkatkan kepadatan tulang.
IV. TES TOLERANSI
LATIHAN MENGGUNAKAN ALAT TREADMILL
Tes Toleransi
Latihan (ETT) adalah prosedur yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik
jantung selama latihan fisik, yang berfungsi untuk menilai peningkatan
kebutuhan oksigen pada jantung. Selama tes ini, pasien dapat melakukan
aktivitas seperti berjalan di treadmill, bersepeda statis, atau naik turun
tangga. Latihan dilakukan dengan meningkatkan kecepatan berjalan atau menambah
kemiringan treadmill serta meningkatkan beban pada sepeda statis secara
bertahap. Selama proses latihan, pemantauan dilakukan terhadap
elektrokardiogram (EKG), detak jantung, dan tekanan darah untuk
analisis lebih lanjut.
Tes Toleransi
Latihan (ETT) dilakukan untuk mendeteksi kelainan jantung secara dini dalam
beberapa kondisi berikut:
1.
Aterosklerosis Koroner:
Penyakit ini menyebabkan gejala dan komplikasi akibat penyempitan lumen arteri,
yang menghambat aliran darah ke jantung. Ketidakcukupan suplai darah (iskemia)
mengakibatkan sel-sel otot kekurangan komponen darah, dengan nyeri dada sebagai
manifestasi utama. Aktivitas fisik dapat memicu nyeri angina karena
meningkatnya kebutuhan oksigen jantung. Diagnosis dapat ditegakkan melalui tes
stres, terutama dalam kasus ischemia yang tidak terdeteksi secara jelas, di
mana pasien tidak menunjukkan gejala meskipun ada bukti ischemia.
2.
Faktor Risiko Penyakit Arteri Koroner:
Riwayat kesehatan pasien dapat membantu mengidentifikasi faktor risiko, yang
dibagi menjadi dua kategori: faktor yang tidak dapat diubah (seperti riwayat
keluarga, usia, jenis kelamin, dan ras) dan faktor yang dapat diubah (seperti
kadar kolesterol, tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, kadar glukosa darah,
obesitas, kurangnya aktivitas fisik, stres, dan penggunaan kontrasepsi oral).
Diagnosis dini diperlukan untuk memastikan kondisi pasien dengan riwayat
tersebut.
3.
Evaluasi Kemampuan Latihan:
Pada pasien yang tidak dapat menjelaskan kelelahan atau sesak napas, sering
kali sulit untuk menentukan penyebab perubahan dalam tubuh mereka. Untuk
membantu menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan tes stres. Fokus utama
pengkajian adalah pada curah jantung dan perubahan pola EKG. Jika curah jantung
menurun, jumlah oksigen yang mencapai jaringan juga akan berkurang. Penurunan
oksigen ini akan memicu stimulasi saraf simpatik untuk memenuhi kebutuhan
oksigen dan mengurangi metabolisme sel, yang dapat menyebabkan kelelahan.
4. Mengevaluasi
respon tekanan darah terhadap latihan pada pasien dengan borderline hipertensi.
Tes toleransi latihan pada kasus ini digunakan untuk membedakan bahwa
peningkatan tekanan darah itu disebabkan oleh rangsangan aktifitas fisik atau
keadaan patologi pada system kardiovaskuler.
5. Mengidentifikasi
kelainan irama jantung, berupa disritmia adalah kelainan denyut jantung yang
meliputi gangguan frekuensi atau irama atau keduanya. Disritmia dapat
diidentifikasi dengan menganalisa EKG. Disritmia dapat muncul, apabila terjadi
ketidakseimbangan pada salah satu sifat dasar jantung. Ketidakseimbangan ini
dapat disebabkan oleh aktivitas normal seperti latihan atau stress tes, hal ini
terjadi karena peningkatan respon miokardium terhadap stilumus terutama syaraf
simpatik yang menyebabkan peningkatan eksitabilitas.
6. Membantu
mengembangkan program latihan yang aman selama rehabilitasi. Pasien yang
mengalami serangan miokard infak akut dan bebas dari gejala maka program
rehabilitasi aktif harus dimulai. Tujuan rehabilitasi adalah mengembangkan dan
memperbaiki kualitas hidup serta mendorong aktivitas fisik dan penyesuaian
fisik. Tujuan toleransi latihan dicapai melalui penyesuaian fisik, yang
dilakukan untuk memperbaiki efisiensi jantung.
7. Mengevaluasi efektivitas pengobatan pada angina dan ischemic. Obat – obatan yang biasa digunakan untuk meningkatkan suplai oksigen, vasodilor , antikoagulan dan trombolitik. Nitrogliserin menyebabkan dilatasi arteri dan vena yang mengakibatkan pengumpulan darah di perifer, sehingga menurunkan jumlah darah yang kembali ke jantung ( preload ) dan mengurangi beban kerja jantung.
IV. BAGIAN-BAGIAN TREADMILL
Dikarenakan
sudah banyak sekali jenis treadmill, khususnya treadmill untuk tujuan terapi,
penulis akan mengambil model alat Treadmill Life Support LS 1002.
Spesifikasi & Fitur :
·
Panel control : Indikator LED,Waktu kecepatan, penghitung
kalori, penghitung detak jantung
·
Motor : 1.5hp (horse power)
·
Tegangan : 220v/110v 50hz
·
Area lari : 1000 x 400 x 1.6mm
·
Kecepatan : 1-12.0 km/jam
·
Ukuran barang : 116 x110 x 60 (cm)
·
Berat bersih : 35kg
·
Ketebalan papan
lari : 16mm
·
Berat max : 120kg
V.
PENGOPERAASIAN
ALAT TREADMILL
Ada beberapa hal
yang perlu dipersiapkan sebelum memulai latihan, hal ini untuk keamanan
pasien dan keberhasila latihan.
1. Persiapan
Awal
Baca
Manual Pengguna: Sebelum menggunakan treadmill, baca manual pengguna
untuk memahami fitur dan fungsi yang ada.
Cek
Kondisi Treadmill: Pastikan treadmill dalam kondisi baik, tidak ada
bagian yang longgar atau rusak.
2. Menyalakan
Treadmill
Colokkan
ke Sumber Listrik: Pastikan treadmill terhubung dengan sumber listrik
yang sesuai.
Nyalakan Mesin: Tekan tombol power untuk menyalakan mesin.
3.
Pengaturan Kecepatan
Atur
Kecepatan:
Gunakan tombol kontrol untuk mengatur kecepatan awal. Disarankan memulai dengan
kecepatan rendah (1-3 km/jam) sebagai pemanasan.
4.
Pemanasan Sebelum Berlatih
Lakukan pemanasan
selama 5-10 menit sebelum mulai berlari. Ini bisa berupa jogging ringan atau
gerakan peregangan untuk menghindari cedera.
5. Posisi
Tubuh yang Tepat
Berdiri dengan
posisi tubuh yang tegak, pandangan ke depan, dan letakkan tangan di pegangan
(handrails) jika perlu. Lepaskan pegangan secara perlahan setelah mesin mulai
bergerak.
6. Pengecekkan Kondisi Tubuh
Electrode dilekatkan pada area dinding dada dapat dihubungkan memakai
kabel dengan electrocardiograph monitor atau dapat juga dengan menggunakan
metode Telemetry (alat penangkap data yang portable yang menggunakan sistem
transmisi gelombang suara dan tanpa kabel).
7. Mulai
Berolahraga
Tekan tombol Start
untuk memulai latihan. Sesuaikan kecepatan dan incline sesuai kenyamanan selama
sesi latihan. Waktu pelaksanaan berkisar 30 – 60 menit. . Jarak
tempuh ban berjalan atau sepeda statis adalah 2 – 3 mil/jam. Hal – hal yang
harus diperhatikan selama pelaksanaan tes adalah : tekanan darah, heart rate,
irama jantung, pernafasan, perubahan EKG, dan ketidaknyamanan pasien pada dada.
8. Pendinginan
Setelah selesai
berolahraga, turunkan kecepatan secara bertahap selama 5-10 menit untuk
melakukan pendinginan. Ini membantu menstabilkan detak jantung.
9. Selesai Pemakaian
Latihan dihentikan pada saat pasien merasa tidak merasa nyaman pada
dada, nafas pendek, merasakan pusing, naiknya heart rate ( maksimal 85% dari
rata HR ) ketidakteraturan irama jantung, perubahan pada gambaran EKG. Setelah
pelaksanaan treadmill pasien akan dimonitor 10 sampai 15 menit setelah tes
selesai atau setelah irama jantung kembali ke kondisi dasar.
VI. PERSIAPAN SEBELUM MEMAKAI TREADMILL
1. Pasien
dianjurkan untuk menggunakan sepatu olah raga bersole dari karet, celana yang nyaman, dan baju
yang longgar.
2. Tidur cukup
sebelum latihan, Kondisi
tidak segar atau stress atau emosi akibat situasi yang menegangkan akan menyebabkan frekuensi
jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatkannya tekanan
darah, dengan demikian beban kerja jantung akan meningkat.
3. Tidak
diinstruksikan untuk berhenti merokok, makan atau minum 4 jam sebelum latihan. Makan dan minum akan meningkatkan
aliran darah ke daerah mesenteric untuk pencernaan, sehingga menurunkan
ketersediaan darah untuk suplai jantung. Kondisi ini akan mengakurkan hasil stress
tes.
4. Tidak makan
atau minum bahan – bahan yang mengandung cafein selama 12 jam sebelum latihan. Bahan – bahan yang
mengandung kafein akan menimbulkan stimulasi terhadap syaraf simpatik, hal ini
akan mempengaruhi frekuensi jantung, irama, dan tekanan darah.
5. Tidak minum
obat – jantung selama 1 hari sebelum test kecuali atas anjuran dokter Obat – obatan yang di
konsumsi menjelang latihan akan dapat memberikan hasil yang meraguakan.
6. Jika pasien
menggunakan inhaler, maka dianjurkan untuk dibawah pada saat test. Demikian juga pada pasien
diabetes jika pasien mendapatkan insulin untuk mengontrol gula darah,
dianjurkan dosis ½ nya pada pagi hari dan makan 4 jam sebelum latihan. Jika
pasien mendapatkan pil untuk mengontrol gula darah, maka jangan minum obat sampai latihan selesai. Jika pasien
dimonitor glukosanya, maka glukosa harus dicek sebelum dan sesudah latihan.
VII.
IMPLIKASI KEPERAWATAN
1.
Catat obat – obat yang diminum pasien dan waktu terakhir di minum.
2.
Anjurkan pasien tidur cukup sebelum latihan, tidak makan atau minum selama 4 jam
sebelum latihan, tidak mengonsumsi bahan – bahan yang mengandung caffein selama
12 jam sebelum latihan.
3.
Jelaskan bahwa pemeriksaan untuk melihat kelistrikan jantung pada saat jantung menerima
beban yang lebih tinggi.
4.
Jelaskan waktu melaksanaan treadmill 30 – 60 menit.
5.
Jelaskan bahwa dada, tangan, kaki pasien akan dipasang electrode yang akan di hubungkan
dengan EKG atau menggunakan telemetry
6.
Jelaskan bahwa pemeriksaan treadmill cukup aman karena diawasi oleh dokter atau
tekniker yang mengetahui jika terjadi kondisi kegawatan.
7.
Anjurkan klien untuk memakai baju yang longgar, celana yang nyaman dan sepatu yang
bersol dari karet pada waktu melakukan treadmill.
8.
Jelaskan bahwa pemeriksaan sama dengan berlari atau bersepeda, dimana bebannya
akan dinaikkan setiap tiga menit
9.
Anjurkan klien untuk memberitahu selama pemeriksaan apabila mengalami nyeri dada,
nafas pendek, pusing dan yang lebih penting lagi memberi kesempatan klien untuk bertanya.
Artikel ini disusun oleh :
- Rafi Adyatma
- Ryan Andrianto Rizki
Program Studi Diploma III Teknik Elektromedis
Poltekkes Kemenkes Jakarta II
Daftar
Pustaka
1. Brunner & Suddarth, ( 2002 ) Keperawatan
Medical-Bedah Vol 2. Jakarta
2. Cleveland Clinic ( 2004 ) Diagnosing Heart disease
: stress test. Diambil 14 Maret 2008 : www.yahoo.com/treadmill.urac’s
3. Maryland Medical Center Programs, (2001 ) Stres
Test. Diambil 14 Maret 2008 www.yahoo.com/treadmill.UMHS
4. Nettina and Sandra, (1996) The Lippingcott : Manual
of Nursing Practice. Sixth edition. Philadelphia Washington.
5. North Memorial Medical Center ( 2000 ) Exercise
stress test ECG. Diambil 15 Maret 2008 :www.yahoo.com/healthencyclopedia
6. University of Utah Health Scienci Center. ( 2000 )
Exercise Treadmill Test. Diambil 14 Maret 2008 :www.yahoo.com/treadmill.test
7. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (2007)
Aplikasi Telemetry dalam Asuhan Keperawatan pasien dengan penyakit jantung di
Indonesia. Diambil 15 Maret 2008 : http://www.nurmartono.blogspot.com/